...syukran...

Saturday, 15 October 2011

Mengasihi Orang Berdosa



Masih segar dalam ingatan kaum muslimin tatkala Rasulullah bersabda, "Aku bermimpi dalam tidur memegang segelas susu. Kuminum hampir habis susu itu sampai rasa kenyang menyelusup di kuku-kukuku. Lalu sisanya kuberikan kepada Saidina Umar bin Khattab ra.
Waktu seorang sahabat bertanya, "Apa takwilnya, ya Rasulullah?"
Nabi Muhammad saw menjawab, "Ilmu."

    Nyatanya, semasa memegang jabatan khalifah, Saidina Umar bin Khattab ra tersohor kekerasan & kegalakannya. Akan tetapi, ilmunya menerangi semua sikap hidupnya, sehingga, dalam memutuskan suatu perkara, yang dipedomaninya adalah kecerdasan pemikirannya, bukan sentuhan perasaannya.

Selaku penguasa ia tidak terpengaruh oleh kemarahannya, kesedihannya, atau kepentingan peribadi & keluarganya.
Ia pernah berkata, "Membatalkan hukuman dengan diam-diam, bagiku lebih baik daripada melaksanakan hukuman dengan diam-diam."
    Sebab, membatalkan hukuman biasanya dilandasi oleh kebijaksanaan & ampunan,
sedangkan menjatuhkan hukuman bisa lantaran benci & balas dendam.
Apalagi jika dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

    Seorang ayah pada suatu saat datang kepada Saidina Umar ra & mengadu,
"Anak perempuanku, wahai Amirul Mukminin, pernah terjerumus kedalam dosa besar.
Ia patah hati, lantas mengambil pisau & mengerat lehernya sendiri. Untung aku mengetahuinya.
Anak itu kuselamatkan, lukanya kurawat dengan cermat hingga segar-bugar kembali."

    Saidina Umar ra merungut.
"Hem, mujur anak engkau itu. Bunuh diri adalah tanda kekufuran. Ia harus bertaubat.
Ayah itu menjawab,
"Memang itulah yang dikerjakannya sesudah itu. Ia menyesal & bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Sekarang ia dipinang seorang pemuda untuk jadi isterinya.
Apakah dosa itu harus kuceritakan kepada calon suaminya, wahai Amirul Mukminin?

" Saidina Umar ra bertitah lantang, "Apakah engkau bermaksud membongkar
aib yang sengaja telah ditutupi oleh Allah takdir-Nya?
Demi Allah, seandainya kau lakukan hal itu, akan kuhukum engkau sedemikian rupa didepan masyarakat sehingga menjadi contoh pahit bagi yang lain. Tidak, jangan kau ungkap kembali cacat yang sudah terhapus itu. Nikahkanlah puteri engkau sebagaimana layaknya seorang perempuan terhormat & Muslimat yang taat."


    Mungkin itulah yang dinamakan kearifan, tumbuh dari rohani yang bersih & adil. Saidina Umar ra tidak segan-segan menceritakan kesalahannya pada hakim & meminta algojo mencambuknya sesuai dengan besar kecil kesalahan yang dilakukannya. Di punggungnya membekas bekas-bekas cemeti itu, tanpa sekelumit pun Saidina Umar ra menampilkan kuasanya sebagai khalifah untuk diberi keringanan.
    Namun, Saidina Umar ra tidak ingin cacat orang lain dibeber-beberkan.
Sebab, terhadap orang bersalah, yang diharapkan adalah memperbaiki, bukan memerosakkannya ke dalam kejahatan yang lebih besar.

Kepada mereka yang telah selesai menjalani masa hukumannya, seharusnya masyarakat memberi kesempatan untuk menebus dosanya dimasa lalu, bukan mengucilkannya sehingga terpaksa mereka terperangkap ke dalam keburukan kembali.

    Seorang lelaki seraya termengah-mengah datang menghadap Saidina Umar ra. Mukanya merah padam & suaranya menggelegar manakala ia bercerita, "Wahai, Amirul Mukminin. Saya melihat dengan mata kepala sendiri pemuda Fulan & pemudi Fulanah berpelukan dengan mesra di belakang pohon kurma."
    Laki-laki itu berharap Saidina Umar akan memanggil kedua asyik masyuk itu & memerintahkan algojo supaya menderanya dengan cemeti.

Ternyata tidak.
Saidina Umar ra mencengkeram leher baju laki-laki itu. Sambil memukulnya dengan gagang pedang, Saidina Umar ra mengherdik,
"Kenapa engkau tidak menutupi kejelekan mereka & berusaha agar mereka bertaubat?
Tidakkah engkau ingat akan sabda Rasulullah saw,
"Siapa yang menutupi aib saudaranya, Allah swt akan menutupi keburukannya di dunia & di akhirat."



    Dalam nalar Saidina Umar ra, bila kedua muda-mudi itu dipermalukan di tengah orang ramai,
boleh jadi mereka akan nekat lantaran tidak tahu kemana hendak menyembunyikan diri.
Bukanlah bubu maksiat yang lebih parah akan mengurung mereka dalam nista berketerusan?

    Pada kali yang lain, seorang Muslim diseret ke hadapannya kerana mengerjakan suatu dosa yang patut menerima hukuman cambuk. Tiga orang saksi mata telah mengemukakan pernyataan yang membuktikan kesalahan lelaki Muslim itu. Tinggal seorang lagi yang merupakan penentuan, apakah hukuman dera harus dijatuhkan atau diurungkan.

    Ketika saksi keempat itu diajukan, Saidina Umar ra berkata,
"Aku menunggu seorang hamba beriman yang semoga Allah tidak akan mengungkapkan kejelekan sesama Muslim dengan kesaksiannya."
    Dengan lega saksi keempat itu menyatakan,
"Saya tidak melihat suatu kesalahan yang menyebabkan lelaki itu wajib dihukum cambuk."


Saidina Umar Al-Khattab ra pun menarik nafas lega =)

 Never look down on anybody,
for they may be better than you in Allah's eyes .. Masya Allah :)

copyright by http://allahseeker.blogspot.com/

 

No comments:

Post a Comment